Cerita · Juli 17, 2021 10

Tak Ada Gobak Sodor Hari Ini

gobak sodor
(Foto: solotrust.com).

Di umur yang dewasa ini, jika ada hal yang bisa diputar ulang untuk dikenang adalah melihat keceriaan beragam permainan tradisional. Buat anak 90-an, zaman kita kecil, hidup belum serba digital. Mungkin enggak ada anak-anak pagi, siang, sore, terus-terusan mendekam di kamar buat main hp. Yang ada kumpul di lapangan, main gobak sodor, karet, engklek sampai dengan gatrik.

Kalau ditarik ke hari ini, termasuk dalam kondisi pandemi kayak gini, anak-anak zaman sekarang bisa sangat mudah menyesuaikan protokol kesehatan. Dilarang keluar rumah, berkerumun, sekolah-sekolah yang bahkan ditutup hampir dua tahun ini. Semua menyesuaikan dengan keadaan, duduk di depan layar sambil mendengarkan guru mengajar. Kadang, pakai seragam pun hanya bagian atas saja, sisanya sembarangan. Setelah belajar selesai, anak-anak bisa kembali sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Coba kalau pandemi terjadi di waktu kita–yang sekarang ini sudah umur 25 ke atas–kecil. Hidup yang serba di lapangan buat main tiba-tiba harus berhenti. Enggak cocok, kan. Yang ada imunnya lebih cepat berkurang, hahaha. Kita dulu mana paham main TikTokan. Tapi, namanya juga waktu, mau enggak mau akan berubah.

Kalau balik lagi ngomongin kenangan awal tentang berbagai permainan tradisional. Gobak sodor, bagiku, adalah permainan yang paling dirindukan karena mengasyikkan. Yang serunya enggak ada lawan, deh.

Nama di setiap daerah sendiri berbeda. Kayak di Pulau Natuna, dia dikenal dengan permainan galah. Di Riau, dikenal dengan nama galah panjang. Di daerah Jawa Barat, permainan ini dikenal dengan namanya galah asin. Di Makassar disebut asing, sampai ke Batak Toba disebut permainan margala. Meski beda-beda namanya, tapi sistem bermainnya tetap sama.

Permainan ini mengharuskan kita untuk mempertahankan garis pertahanan terakhir dengan cara menghadang atau menghalang-halangi lawan yang berusaha berlari meloloskan diri menembus garis pertahanan. Di mana, tim yang meloloskan semua anggota akan menjadi pemenang. Tapi kalau ada salah satu anggota tim tertangkap atau tersentuh lawan, secara langsung akan membuat timnya gugur dan bergantian menjaga benteng.

Bentuk bentengnya sendiri itu segi empat berpetak-petak, berupa tanah yang biasanya digaris dengan menggunakan kapur tulis. Permainan ini harus dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari tiga hingga lima orang. Mungkin bisa juga sih lebih dari itu, tapi kotaknya jadi makin panjang ke belakang. Hahaha.

Kita dituntut untuk berlarian dengan cepat, menghadang tim lawan dengan cekatan, dan menggerakkan tubuh dengan spontan. Di mana, kita juga dituntut buat bisa mengecoh lawan supaya bisa melewati garis. 

Permainan yang pastinya bikin keringetan. Enggak heran kalau gobak sodor ini masuk jadi salah satu olahraga tradisional di Indonesia, karena katanya bisa membantu melancarkan proses tumbuh kembang anak juga.

Kayaknya kalau masih ada permainan ini, aku juga bakalan ikutan lagi biar bisa bantu menurunkan berat badan. Iya enggak, sih?

Selain fisik, main gobak sodor juga butuh mental dan otak yang pintar. Hahaha. Bukan hanya mengandalkan strategi untuk menang, tapi juga mengandalkan peluang. Gimana caranya supaya kita enggak bisa ditangkap oleh kelompok yang sedang berjaga. Ya, walau anak zaman sekarang lebih canggih, sih, mikirin strategi perang beneran….. di Free Fire atau PUBG. XD

Yang pasti permainan ini juga bikin kita enggak kesepian, karena pasti membutuhkan orang yang cukup banyak. Meminjam kalimat Aan Mansyur, sayangnya tak ada gobak sodor hari ini. Eh, apa masih ada di pedalaman-pedalaman? Kangen, deh.